Showing posts with label Kurang. Show all posts
Showing posts with label Kurang. Show all posts

Thursday, 9 February 2012

Anak Kurang Vitamin D Lebih Gampang Depresi

JAN29

Anak-anak dengan level vitamin D yang rendah lebih cenderung menderita depresi, demikian klaim para ilmuwan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kadar vitamin D dari sinar matahari yang tinggi, berpeluang 10 persen lebih rendah terkena masalah kesehatan mental.


Begitulah temuan yang didapat tim dari Universitas Bristol, Inggris, seperti dikutip Daily Mail hari ini, 20 Januari 2012. Penelitian yang bertujuan untuk melihat kadar vitamin D pada anak-anak itu melibatkan 2.700 responden berusia 9-13 tahun.


Hasilnya, responden berkadar vitamin D terendah cenderung menampakkan gejala depresi. Sedangkan anak-anak yang level vitamin D-nya lebih tinggi cenderung menunjukkan penurunan gejala depresi pada usia remaja.


Vitamin D bisa ditemukan dalam kadar tinggi dari sinar matahari yang menerpa kulit seseorang. Namun vitamin ini juga bisa ditemukan pada minyak ikan, seperti tuna. Penelitian ini mengevaluasi kadar dari dua jenis vitamin D, yaitu D2 dan D3, dan menemukan bahwa anti-depresi sangat kuat terkait dengan vitamin D3.


Ketua tim peneliti, Dr Anna-Maija Tolppanen, mengatakan penelitian lanjutan diperlukan sebelum para dokter merekomendasikan perlunya suplementasi vitamin D. Maklum, meski vitamin D ditemukan pada minyak ikan dan secara rutin ditambahkan pada susu, sangat sedikit nutrisi dari makanan tersebut yang benar-benar masuk ke aliran darah.


Defisiensi atau kekurangan vitamin D terjadi jika level vitamin D dalam darah seseorang kurang dari 15 nanogram/desiliter. Sedangkan insufisien alias ketidakcukupan bila level vitamin D bertengger pada 15-31 ng/dL. Nah, ketercukupan atau sufisien terjadi jika level vitamin D dalam darah di atas atau sama dengan 32 ng/dL.


 


 


View the original article here



continue reading

Sunday, 29 January 2012

Kurang Tidur Saat Bayi, Mood Jelek Saat Dewasa

JAN29

Anak-anak yang tidak punya cukup waktu tidur cenderung mengalami risiko mood disorder (gangguan suasana hati) di masa dewasa. Demikian sebuah penelitian terbaru seperti dikutip Health Day edisi 5 Januari 2012.


Para peneliti mengamati balita berusia 30 bulan hingga 36 bulan dan menemukan bahwa gangguan tidur setiap hari menyebabkan kecemasan berlebih, berkurangnya tingkat kenyamanan dan rasa bahagia, serta menurunkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah.


“Banyak anak kecil saat ini yang tidak cukup waktu tidurnya. Padahal, untuk balita, tidur siang yang cukup adalah salah satu cara untuk memastikan bahwa 'tangki tidur' selalu tersedia penuh setiap hari,” kata ketua tim peneliti, Monique LeBourgeois, profesor di Departemen Psikologi Integrative di University of Colorado, Boulder, dalam siaran persnya.


Penelitian ini, sambung LeBourgeois, “Menunjukkan bahwa kurangnya waktu tidur menjadi beban bagi anak-anak. Dengan begitu mereka kesulitan mengekspresikan perasaannya, dan dari waktu ke waktu, kemungkinan membentuk perkembangan otak emosional dan menempatkan mereka dengan risiko gangguan yang berhubungan dengan mood sepanjang hidupnya.”


Dalam studi ini para peneliti merekam ekspresi emosional dari anak-anak ketika mereka diminta memecahkan persoalan dalam teka-teki bergambar dalam dua hari yang berbeda. Satu hari, tes ini dilakukan satu jam setelah anak-anak tidur siang selama 90 menit. Di hari lain, anak-anak diganggu tidurnya dan dites sejam setelah mereka tidur normal.


Ketika waktu tidurnya terganggu, respons emosi positif anak-anak tersebut menurun 34 persen setelah menyelesaikan teka-teki dan respons negatifnya meningkat 31 persen ketika mereka tidak bisa menyelesaikan teka-teki itu. Sementara sebanyak 39 persen menurun kemampuannya dalam mengekspresikan kebingungan saat mencoba menyelesaikan teka-teki.


“Kebingungan bukanlah hal yang buruk. Hal itu merupakan emosi kompleks yang menunjukkan bahwa anak-anak tahu ada sesuatu yang tidak beres,“ ucap LeBourgeois. “Ketika anak-anak yang cukup tidur mengalami kebingungan, mereka akan terangsang untuk membantu yang lain. Ini suatu yang positif. Respons yang adaptif menunjukkan bahwa mereka secara kognitif terhubung dengan dunia mereka.”


Secara keseluruhan, menurut rilis tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa kehilangan waktu tidur membuat anak-anak semakin kesulitan untuk merasakan pengalaman menarik dan menakjubkan sekaligus beradaptasi dengan rasa frustrasi.


“Persis seperti nutrisi yang baik, cukup tidur adalah dasar yang memberikan anak-anak kesempatan terbaik untuk mendapatkan yang paling penting dari orang lain dan segala hal yang mereka alami setiap hari,” ujar LeBourgeois. Hasil penelitian ini dipublikasikan secara online di Journal of Sleep Research edisi mendatang.


View the original article here



continue reading

Tuesday, 13 December 2011

Bagaimana Melihat Ibu Hamil Kurang Gizi?

JAN29

Masa kehamilan merupakan masa yang banyak ditunggu pasangan yang baru menikah. Umumnya mereka memimpikan keturunan yang sehat dan cerdas. Sayang, terkadang keinginan ini tidak berjalan sesuai dengan harapan. Beragam penyebabnya. Salah satunya defisiensi zat gizi mikro, yang dialami calon ibu selama kehamilan.Apakah defisiensi zat gizi mikro tersebut? Yakni, sebuah kondisi ketika calon ibu cukup mengkonsumsi makanan secara umum, tapi kurang asupan zat gizi mikro tertentu yang dibutuhkan untuk mempertahankan pertumbuhan dan fungsi organ, serta sistem tubuh sang ibu. Zat gizi mikro adalah zat gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit, tapi dapat mengganggu keseimbangan metabolisme bila tidak terpenuhi. Contoh zat gizi mikro adalah vitamin A, seng, zat besi, yodium, dan asam folat.
Menurut ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr dr Saptawati Bardosono, MSc, ibu kurang gizi akan kekurangan cadangan zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan embrio. Beberapa hari setelah konsepsi, embrio muncul dalam rahim tapi belum tertanam dalam dinding rahim. Pada periode ini, terjadi pembelahan dan replikasi sel secara cepat.
"Pada ibu malnutrisi akan berpengaruh secara negatif terhadap pembelahan dan replikasi sel dalam embrio, yang berdampak negatif pada janin di tahap selanjutnya," kata Saptawati pada simposium "Pentingnya Nutrisi Sejak Awal Kehidupan untuk Kesehatan Generasi Bangsa di Masa Depan" pada Selasa lalu, di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta. Hajatan ini hasil kerja sama Perhimpunan Nutrisi Indonesia bersama PT Nutricia Indonesia Sejahtera.
Terdapat sejumlah risiko kesehatan pada janin jika ibu mengalami defisiensi zat gizi mikro. Saptawati mencontohkan defisiensi folat pada awal kehamilan akan terkait dengan defisit pembentukan saluran saraf tempat tumbuhnya otak dan sumsum belakang. Jika calon ibu mengalami defisiensi kalsium, yang terjadi adalah terhambatnya pertumbuhan kerangka tulang. Sementara itu, jika terjadi defisiensi zat besi, yang terjadi pada bayi adalah anemia yang terkait dengan retardasi pertumbuhan janin dalam rahim dan menyebabkan berat bayi lahir rendah (BBLR).
Sayangnya, masalah gizi pada ibu hamil di Indonesia masih kurang menguntungkan. Ahli gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Elvina Karyadi, MSc, PhD, SpGK, memaparkan, berdasarkan riset kesehatan dasar 2007, terdapat 13,6 persen wanita usia subur dengan kurang energi kronis. Selain itu, ada 11,3 persen wanita dewasa yang mengalami anemia. Bahkan, berdasarkan survei kesehatan rumah tangga 2001, prevalensi (angka kejadian) anemia pada ibu hamil mencapai 40,1 persen.
Status gizi pada ibu hamil dapat dengan mudah diketahui. Cara yang sederhana adalah dengan mengukur lingkar lengan atas (Lila). Minimal Lila seorang perempuan jika ingin hamil adalah 23,5 sentimeter. "Jika sudah 23,5 sentimeter, berarti dia sudah siap hamil karena cadangan energinya cukup untuk janin," ujar Saptawati.
Adapun untuk mengetahui soal anemia dilakukan dengan mengukur jumlah hemoglobin calon ibu. Calon ibu dinyatakan mengalami anemia jika kadar hemoglobinnya kurang dari 11 gram persen (artinya 11 gram dalam setiap 100 mililiter darah). Karena itu, jika perempuan hendak hamil, harus dipastikan kadar hemoglobinnya sudah mencapai 12 gram persen ke atas.
Selain asupan zat gizi mikro, sebaiknya calon ibu menjaga agar tak sampai mengalami malnutrisi. Kasus malnutrisi terkait dengan kurangnya asupan energi dari makanan dalam waktu lama (kalori terutama dari karbohidrat dan protein). Malnutrisi yang dialami calon ibu akan menyebabkan kondisi kurang berat (underweight) dan akan meningkatkan terjadinya masalah kesehatan.
Risiko yang terjadi pada janin jika ibu mengalami malnutrisi sangat beragam, di antaranya peningkatan kematian perinatal (kematian dalam tujuh hari kelahiran). Selain itu, bayi lahir dalam kondisi kurang berat badan. Bayi dengan BBLR (berat kurang dari 2,5 kilogram) akan 5-30 kali lebih rentan meninggal dalam tujuh hari pertama kelahirannya dibanding bayi dengan berat badan normal (2,5-3,5 kilogram). Adapun bayi dengan berat badan kurang dari 1,5 kilogram memiliki risiko 70-100 kali meninggal dalam tujuh hari pertama.
Risiko lainnya adalah gangguan saraf, pencernaan, pernapasan dan sirkulasi, serta cacat lahir, kurang berkembangnya beberapa organ tubuh, dan kerusakan otak. Yang juga mengkhawatirkan adalah bayi mengalami gangguan metabolis pada pankreas. Akibatnya, bayi mengalami gangguan metabolisme insulin dan glukosa selama kehidupannya. "Bayi akan terkena diabetes melitus tipe 2, sindroma metabolis, dan obesitas," kata Saptawati.


View the original article here

continue reading