Showing posts with label Tubuh. Show all posts
Showing posts with label Tubuh. Show all posts

Thursday, 22 August 2013

Tiap Jam Satu Organ Tubuh Terjual secara Ilegal

JAN29

foto

Ilustrasi. businessweek.com


Pasar gelap organ tubuh manusia kian mencemaskan. Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, tiap tahun, sebanyak 10 ribu ginjal diperjualbelikan secara ilegal. Ini berarti, hampir tiap jam terjadi satu transaksi organ tubuh.


Bukti yang dikumpulkan oleh jaringan dokter di seluruh dunia menunjukkan bahwa pedagang makin berani menentang hukum. Permintaan yang meningkat menyebabkan ''bisnis'' ini tumbuh subur.


Banyak dari pasien gagal ginjal pergi ke Cina, India, atau Pakistan untuk mendapatkan ginjal baru. Di ketiga negara ini, satu ginjal bisa didapatkan dengan harga US$ 200 ribu. Namun, mereka yang putus asa mendapatkan uang biasanya akan rela melego ginjal mereka hanya dengan US$ 5.000 saja.


Polisi Israel pekan lalu menangkap 10 orang, termasuk seorang dokter, yang diduga anggota jaringan perdagangan organ tubuh internasional dan melakukan pemerasan, penggelapan pajak, dan praktik yang membahayakan tubuh penjual organ. Jaringan lain juga ditemukan di India dan Pakistan.


The Guardian yang menghubungi broker organ di Cina yang mengiklankan jasa dengan kalimat, "Donasi ginjal, membeli iPad baru!" mendapatkan sedikit cerita tentang bagaimana praktek pasar gelap organ tubuh di Cina. Rata-rata, ia membayar di bawah US$ 5.000 untuk ginjal dan  operasi dapat dilakukan dalam waktu 10 hari.


Sampai saat ini, ginjal masih menguasai 75 persen pasar gelap organ tubuh. Peningkatan tingkat diabetes, tekanan darah tinggi dan masalah jantung yang menyebabkan permintaan untuk ginjal untuk jauh melebihi pasokan.


Data dari WHO menunjukkan bahwa dari 106.879 organ diketahui telah dicangkokkan di 95 negara anggota pada tahun 2010 (secara legal dan ilegal), sekitar 73.179 (68,5 persen) adalah ginjal.



View the original article here


continue reading

Sunday, 3 June 2012

Asma dan Alergi Anak Terkait Indeks Massa Tubuh

JAN29

Indeks massa tubuh (IMT) anak Anda bisa bercerita banyak mengenai kesehatan mereka. Menurut penelitian terbaru, IMT yang tinggi, yaitu sekitar 85 persen atau lebih dari angka normal, pada usia tujuh tahun terkait dengan peningkatan risiko asma dan alergi pada usia delapan tahun.


Pada anak-anak yang IMT-nya tinggi di usia balita, tapi memiliki IMT normal pada usia tujuh tahun, maka tidak akan meningkatkan risikonya terkena asma atau alergi. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari Institute of Environmental Medicine Karolinska Institute di Swedia yang dipimpin Jessica Ohman Magnusson.


Keterkaitan IMT tinggi dan asma hanya ditemukan pada anak-anak yang orang tuanya tidak memiliki riwayat alergi, tidak pada orang tua yang memiliki riwayat alergi. Penjelasan untuk hal ini adalah karena riwayat alergi orang tua sudah meningkatkan risiko anaknya terkena asma.


Penelitian ini juga menemukan peningkatan risiko berkembangnya alergi terhadap benda asing yang terhirup, seperti bulu binatang piaraan, serbuk sari bunga, debu, dan jamur. Tapi, tidak ditemukan hubungan IMT tinggi dengan risiko berkembangnya alergi makanan.


IMT adalah perhitungan lemak tubuh menggunakan tinggi dan berat tubuh. Untuk menghitung, kalikan berat badan (dalam kilogram) dengan 703. Hasilnya lalu dibagi dengan tinggi badan (dalam inci). Hasilnya lalu akar kuadratkan. Misalkan, berat anak Anda 18 kilogram dengan tinggi badan 90 sentimeter (36 inci), maka IMT-nya adalah 18 x 703 = 12.654 / 36 = 333. Akar kuadrat dari 333 adalah 18,25. Itu berarti IMT anak Anda termasuk normal. IMT normal berkisar antara 18,5 sampai dengan 24,9.


IMT yang tinggi pada usia anak satu, empat, dan tujuh terkait dengan terjadinya asma pada usia delapan tahun. Tidak ada kaitan antara IMT usia bayi (12 bulan-18 bulan) dengan peningkatan risiko terkena asma.


Peneliti sampai pada kesimpulan ini setelah menganalisis rekam medis dari 2.075 anak yang dimiliki sekolah. Orang tua para subyek penelitian diwawancarai untuk mengetahu gejala asma dan paparan benda asing yang membuat anak alergi ketika anak mereka berusia satu tahun, dua tahun, empat tahun, dan delapan tahun. Contoh darah juga diambil ketika anak berusia delapan tahun.


Riset lanjutan dapat dilakukan untuk memahami bagaimana obesitas berdampak pada risiko asma. Penyakit asma merupakan peradangan dan para peneliti yakin bahwa hormon leptin dapat menyebabkan respon peradangan meningkat. Penelitian lanjutan dibutuhkan untuk mengetahui efek leptin pada asma.


Penelitian in i dipublikasikan dalam Pediatrics edisi Januari 2012. Penelitian ini di antaranya didanai oleh Stockholm Countyu Council+ dan Heart and Lung Foundation.


View the original article here



continue reading

Saturday, 11 February 2012

SetiapHari Tubuh Manusia Tercemar Toksin

JAN29

Setiap hari tubuh manusia tercemar toksin (racun), baik dari sisa hasil metabolisme yang tidak diharapkan, maupun dari luar tubuh manusia, melalui makanan, minuman, dan udara.

Semakin banyak polusi udara di lingkungan dan semakin banyak kita memperoleh toksin dari makanan dan minuman, maka semakin besar peluang tubuh kita menumpuk toksin, sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit.

"Gejala yang paling sederhana bahwa di dalam tubuh kita banyak terdapat racun adalah keringat berbau tak sedap, mudah pusing, mual, mengantuk, dan badan terasa lemas meski telah banyak makan," demikian papar Prof Dr Ir Hardinsyah, Guru Besar Ilmu Gizi di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor, Rabu (9/8/2011).

Ia memaparkan, secara fitrah manusia memiliki kekuatan yang mampu menjaga kesehatan dirinya sendiri, karena dianugerahi paru-paru, usus, hati, dan ginjal, yang salah satu fungsi utamanya adalah untuk membersihkan toksin. Kekuatan ini akan semakin melemah apabila asupan gizi tidak lengkap, sehingga akan memengaruhi fungsi organ tubuh lainnya.

Detoksifikasi adalah proses penetralan dan pengeluaran untuk meminimalkan bahkan menghilangkan toksin dari dalam tubuh atau lebih dikenal sebagai internal cleansing. Proses ini bermanfaat untuk membuang segala macam zat yang tidak diperlukan oleh tubuh.

"Organ detoks utama dalam tubuh kita adalah hati, ginjal, paru-paru, sistem limpatik, dan kulit," katanya.

Karena tubuh terdiri atas rangkaian organ yang saling berhubungan, maka manfaat yang optimal akan diraih bila detoks dilakukan secara terintegrasi dengan latihan fisik atau olahraga yang memicu pengeluaran keringat. Hal lain yang  paling penting adalah latihan mental dan spiritual seperti puasa sebagai ibadah.

Detoks yang terakhir ini tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga dapat memurnikan bahkan meningkatkan sensitivitas pikiran, perasaan, dan spiritual kita. Pola makan yang salah atau perilaku tidak sehat akan memicu produksi toksin yang membahayakan dalam tubuh.

Puasa sebulan yang dilakukan setiap tahun, dapat dijadikan arena ibadah sambil meraih manfaat detoks secara berkala. Hal itu dapat menormalkan kembali proses-proses metabolisme alami tubuh, memurnikan atau membersihkan darah dan cairan tubuh, meminimalkan peradangan, mempercepat peremajaan sel, mengoptimalkan kerja organ-organ penting tubuh.

Selain itu, melancarkan sirkulasi darah dan sistem pengeluaran tubuh melalui fases, urine, dan keringat.




View the original article here



continue reading

Saturday, 21 January 2012

Tujuh Hari Menuju Tubuh Bugar

JAN29

Detoks mempunyai banyak manfaat kesehatan bagi tubuh, di antaranya bisa meningkatkan energi, membantu mengurangi berat badan, membersihkan kulit, serta meningkatkan kemampuan proses pencernaan makanan. Melakukan detoksinasi selama tujuh hari dalam setahun, kapan pun waktunya, bisa membantu Anda untuk memperbaiki kondisi tubuh sekiranya Anda merasa tak nyaman dengan kondisi tubuh Anda saat ini.


Berikut adalah tip melakukan tujuh hari detoksinasi sesuai saran dari pendiri My-DetoxDiet, Ilona Wesle seperti dikutip Zest edisi 3 Januari 2012.


1. Hindari black tea, kopi dan alkohol.
Minumlah teh herbal. Teh jelatang sangat bagus untuk fungsi ginjal, teh juga bagus untuk membersihkan liver.


2. Minum sedikitnya satu liter air per hari.
Idealnya kita minum lebih dari satu liter per hari. Tempatkan botol minum di meja kerja Anda dan teguklah secara rutin. Anda akan merasa takjub betapa mudahnya jika Anda minum sedikit, tetapi sering.


3. Minumlah jus buah segar.
Misalnya jus wortel, umbi merah, apel dan timun. Semua buah tersebut bergizi dan membersihkan tubuh.


4. Hindari makanan yang sudah diproses (siap saji).
Jauhi semua makanan siap saji, camilan gurih dan biskuit. Makanlah makanan dengan rasa alami. Masak sayuran dengan mengukusnya, gunakan sedikit minyak, demi mendapatkan sebanyak mungkin nutrisi dengan rasa yang khas.


5. Pilihlah makanan organik.
Demi meminimalisasi jumlah pestisida yang masuk ke dalam tubuh, pilihlah makanan organik. Meskipun Anda tak bisa membuat semua makanan yang dikonsumsi bersumber dari makanan organik, lakukanlah yang terbaik yang bisa Anda lakukan. Hal itu akan membuat perbedaan yang besar.


6. Makan lima porsi buah-buahan dan sayuran per hari.
Sebaiknya bisa lebih dari itu. Saat makan siang dan makan malam, cobalah untuk mengisi 60 persen piring Anda dengan sayuran dan makanlah sayuran yang bervariasi.


7. Kurangi produk daging.
Hindari produk susu dan gantilah susu hewan dengan susu kedelai atau kacang. Alternatif untuk protein antara lain kacang, lentil, biji-bijian dan quinoa.


8. Jaga kesehatan.
Bantu proses detoksinasi ini dengan cukup tidur di malam hari, lakukan yoga atau pilates, sesekali lakukan pemijatan tubuh dan pergi berolah raga secara rutin.


View the original article here


continue reading

Monday, 2 January 2012

SetiapHari Tubuh Manusia Tercemar Toksin

JAN29

Setiap hari tubuh manusia tercemar toksin (racun), baik dari sisa hasil metabolisme yang tidak diharapkan, maupun dari luar tubuh manusia, melalui makanan, minuman, dan udara.

Semakin banyak polusi udara di lingkungan dan semakin banyak kita memperoleh toksin dari makanan dan minuman, maka semakin besar peluang tubuh kita menumpuk toksin, sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit.

"Gejala yang paling sederhana bahwa di dalam tubuh kita banyak terdapat racun adalah keringat berbau tak sedap, mudah pusing, mual, mengantuk, dan badan terasa lemas meski telah banyak makan," demikian papar Prof Dr Ir Hardinsyah, Guru Besar Ilmu Gizi di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor, Rabu (9/8/2011).

Ia memaparkan, secara fitrah manusia memiliki kekuatan yang mampu menjaga kesehatan dirinya sendiri, karena dianugerahi paru-paru, usus, hati, dan ginjal, yang salah satu fungsi utamanya adalah untuk membersihkan toksin. Kekuatan ini akan semakin melemah apabila asupan gizi tidak lengkap, sehingga akan memengaruhi fungsi organ tubuh lainnya.

Detoksifikasi adalah proses penetralan dan pengeluaran untuk meminimalkan bahkan menghilangkan toksin dari dalam tubuh atau lebih dikenal sebagai internal cleansing. Proses ini bermanfaat untuk membuang segala macam zat yang tidak diperlukan oleh tubuh.

"Organ detoks utama dalam tubuh kita adalah hati, ginjal, paru-paru, sistem limpatik, dan kulit," katanya.

Karena tubuh terdiri atas rangkaian organ yang saling berhubungan, maka manfaat yang optimal akan diraih bila detoks dilakukan secara terintegrasi dengan latihan fisik atau olahraga yang memicu pengeluaran keringat. Hal lain yang  paling penting adalah latihan mental dan spiritual seperti puasa sebagai ibadah.

Detoks yang terakhir ini tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga dapat memurnikan bahkan meningkatkan sensitivitas pikiran, perasaan, dan spiritual kita. Pola makan yang salah atau perilaku tidak sehat akan memicu produksi toksin yang membahayakan dalam tubuh.

Puasa sebulan yang dilakukan setiap tahun, dapat dijadikan arena ibadah sambil meraih manfaat detoks secara berkala. Hal itu dapat menormalkan kembali proses-proses metabolisme alami tubuh, memurnikan atau membersihkan darah dan cairan tubuh, meminimalkan peradangan, mempercepat peremajaan sel, mengoptimalkan kerja organ-organ penting tubuh.

Selain itu, melancarkan sirkulasi darah dan sistem pengeluaran tubuh melalui fases, urine, dan keringat.


View the original article here

continue reading