Friday, 1 June 2012

Kafein Ubah Kadar Estrogen Wanita

JAN29

Kafein bisa mengubah kadar estrogen di tubuh wanita. Akan tetapi, kafein memiliki efek yang berbeda antara wanita Asia dan wanita berkulit putih. Demikian studi terbaru mengungkapkan.


Lebih dari 250 wanita berusia 18 hingga 44 tahun menjadi bagian dari penelitian yang dilakukan antara 2005 hingga 2007. Rata-rata para partisipan itu mengkonsumsi 90 miligram kafein per hari atau setara dengan satu cangkir kopi berkafein.


Estrogen adalah hormon reproduksi yang diproduksi oleh ovarium. Wanita Asia yang mengkonsumsi rata-rata 200 miligram atau lebih kafein per hari (setara dengan dua cangkir kopi) meningkat kadar estrogennya dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi kurang dari itu. Namun, wanita berkulit putih yang mengkonsumsi jumlah kafein yang sama memiliki kadar estrogen lebih rendah ketimbang mereka yang mengkonsumsi kurang dari jumlah tersebut.


Sedangkan wanita berkulit hitam yang mengkonsumsi 200 miligram atau lebih kafein per hari meningkat kadar estrogennya. Namun, temuan ini tidaklah signifikan secara statistik, kata para peneliti dari U.S National Institutes of Health.


Kafein yang dikonsumsi oleh wanita dalam penelitian ini berasal dari berbagai sumber, seperti kopi, teh hitam, teh hijau, dan soda berkafein. Temuannya menjadi sedikit berbeda ketika para peneliti mempertimbangkan sumber kafein secara individual.


Mengkonsumsi 200 miligram kafein dari kopi mencerminkan semua temuan. Tetapi konsumsi soda berkafein atau teh hijau lebih dari satu cangkir per hari ada kaitannya dengan kadar estrogen yang lebih tinggi di semua kelompok wanita. Demikian diungkapkan oleh penelitian yang dipublikasikan secara online di American Journal of Clinical Nutrition edisi Februari 2012.


Meski demikian, perubahan kadar estrogen akibat mengkonsumsi minuman berkafein tidak berpengaruh pada ovulasi wanita, kata para peneliti yang juga mengikuti siklus haid para wanita tersebut selama dua periode.


Menurut peneliti, sekitar 89 persen wanita Amerika berusia 18 hingga 34 tahun mengkonsumsi kafein setara dengan 1,5 atau dua cangkir kopi per hari. “Hasil ini mengindikasikan bahwa konsumsi kafein di antara wanita berusia subur dipengaruhi kadar estrogen,” kata Enrique Schisterman dari Division of Epidemiology, Statistics, and Prevention Research di U.S. National Institute of Child Health and Human Development seperti dikutip Health Day edisi 26 Januari 2012.


“Dalam jangka pendek, variasi dalam kandungan estrogen di antara kelompok yang berbeda-beda tidak menunjukkan efek yang jelas,” kata Schisterman.


View the original article here



continue reading

Wednesday, 30 May 2012

Sepatu Berhak Tinggi Merusak Otot

JAN29

Banyak wanita tahu bahwa sepatu berhak tinggi seringkali tidak nyaman, tidak stabil, sekaligus tidak praktis. Namun, tetap saja kaum hawa ini memilih mengenakan sepatu jenis tersebut karena alasan meningkatkan kepercayaan diri.


Sepatu hak tinggi memang indah, tetapi menyakitkan. Para ilmuwan dari Australia menemukan bahwa mengenakan sepatu hak tinggi atau mengarahkan jari kaki ke bawah secara terus-menerus akan mengubah cara berjalan seseorang sehingga juga berisiko merusak otot-otot kaki secara permanen.


Para ilmuwan dari Griffith University Australia membandingkan satu grup pecinta hak tinggi dengan satu grup kontrol, yakni wanita berusia remaja akhir hingga usia 30-an tahun yang jarang mengenakan sepatu berhak tinggi. Para wanita tersebut diminta oleh para peneliti agar berjalan tanpa alas kaki kemudian diamati untuk mengetahui adakah ada perubahan dalam cara melangkah akibat menggunakan sepatu hak tinggi. Demikian tulis koran Amerika New York Times seperti dikutip kembali oleh situs Daily Mail edisi 26 Januari 2012.


Semua wanita itu diminta untuk berjalan di landasan pacu sepanjang 26 kaki yang dasarnya dipasangi sensor. Yang dimonitor adalah kekuatan masing-masing kaki saat menapak di tanah maupun sendi dan otot saat beraktivitas.


Hasil penelitian yang dipublikasikan bulan ini di Journal of Applied Physiology menemukan, meskipun saat berjalan di tanah yang rata, para penggemar hak tinggi, yaitu mereka yang kerap mengenakan alas kaki setinggi 2 inci atau lebih selama 40 jam per minggu atau lebih selama lebih dari dua tahun, mengalami cara berjalan yang disesuaikan secara mekanik dibandingkan dengan mereka yang bukan penggemar alas kaki berhak tinggi.


Para pengguna alas kaki datar melangkah lebih panjang dengan menggunakan tendon mereka untuk berjalan dan tidak banyak melibatkan betis mereka.


Perhatikan cara berjalan salah satu pesohor dunia yang gemar bersepatu hak tinggi, Victoria Beckham. Ia melangkah lebih pendek dan agresif, serta memberikan tekanan lebih pada otot betis, kata New York Times.


Cara berjalan seperti itu, menurut tim dari New York Times, adalah cara berjalan yang tidak efisien karena para pengguna sepatu hak tinggi memaksa betis mereka bekerja ekstra keras untuk melangkah ketimbang menggunakan tendon mereka yang mengontrol cara berjalan tanpa alas kaki.


The New York Times melaporkan bahwa temuan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi para peneliti yang diketuai oleh Dr. Neil J. Cronin yang saat ini sudah pindah ke University of Jyvaskyla, Finlandia.


Hasil penelitian untuk mengungkapkan bahwa setelah dua tahun, para pengguna sepatu hak tinggi akan cenderung untuk menderita kelelahan otot dan luka akibat tekanan.


Karena itu, kata Dr. Cronin, diperlukan perawatan khusus ketika melakukan olahraga dan memberikan tekanan pada tendon yang tidak sering tertekuk sepenuhnya. Disarankan juga untuk beristirahat sejenak dari penggunaan sepatu hak tinggi karena alas kaki jenis itu sebaiknya hanya dikenakan sekali atau dua kali seminggu.


View the original article here



continue reading

Tuesday, 29 May 2012

Mengapa Anak Laki-laki Lebih Lambat Bisa Bicara

JAN29

Anak laki-laki biasanya terlambat untuk bisa berbicara ketimbang anak perempuan. Keahlian berbahasa mereka juga berkembang lebih lambat dari anak perempuan. Selama ini, apa penyebab hal ini masih menjadi misteri Tapi, penelitian terbaru dari ilmuwan Australia ini mungkin bisa menjawabnya.


Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry edisi terbaru itu, tim peneliti Telethon Institute for Child Health Research pada University of Western Australia di Perth mengumpulkan darah tali pusar dari hampir 900 bayi baru lahir. Darah tali pusar (umbilical cord) itu lalu dites untuk mengetahui kadar testosteron sebelum lahir.


Ternyata, janin laki-laki terpapar testosteron 10 kali lebih banyak dari pada janin perempuan ketika  dalam kandungan. Testosteron atau hormon seks ini diketahui memiliki peran penting dalam proses bagaimana otak berkembang.


"Masalah terlambat berbicara terjadi pada sekitar 12 persen anak-anak yang diteliti, mayoritas adalah anak laki-laki," ujar Andrew J.O. Whitehouse, salah satu peneliti. "Bertahun-tahun, penyebab terlambatnya anak berbica menjadi misteri," Whitehouse menambahkan.


Apa yang ditemukan penelitian ini, kata Whitehouse, adalah terpapar testosteron dalam kadar yang lebih tinggi, khususnya pada janin berkelamin laki-laki bisa jadi merupakan penyebab untuk terlambat kemampuan berbicara anak. "Temuan ini merupakan bukti biologi pertama dari faktor risiko biologi untuk penundaan kemampuan berbahasa," kata associate professor di Telethon Institute for Child Health Research itu.


Penelitian ini tak hanya sebatas menguji kadar testosteron sebelum lahir, tapi juga tahap perkembangan bayi selama tiga tahun pertamanya. Tim peneliti menemukan bahwa bayi laki-laki usia tiga tahun yang memiliki kadar testosteron tinggi memiliki risiko dua kali lipat untuk positif terlambat bicara ketimbang bayi laki-laki dengan kadar testosteron lebih rendah.


Uniknya, ternyata pada anak perempuan yang terjadi sebaliknya. Anak perempuan dengan kadar testosteronnya lebih tinggi punya risiko rendah untuk terlambat bicara ketimbang yang kadar terstosteronnya lebih rendah. Para peneliti masih akan mencari jawaban mengapa testosteron mempunyai efek yang berbeda terhadap anak laki-laki dan perempuan. Untuk menjawap pertanyaan itu diperlukan riset lanjutan.


Penelitian ini hanya menyimpulkan bahwa kadar testosteron yang tinggi sebelum kelahiran berkaitan dengan penundaan kemampuan berbicara anak tapi bukan penyebab penundaan kemampuan berbicara tersebut. "Jika kita bisa mengidentifikasi anak terpapar testosteron kadar tinggi selama dalam kandungan, mungkin kita dapat membantu perkembangan berbahasanya dari tahap sedini mungkin," ujar Whitehouse.


 


View the original article here



continue reading

Thursday, 16 February 2012

'Tertular' Menguap Wujud Interaksi Sosial

JAN29

PERNAH “tertular” menguap karena teman menguap? Faktanya, menguap hanya akan “menular” kepada orang yang kita kenal saja. Studi baru yang dilakukan University of Pisa, Italia, terhadap 480 kasus menguap 109 responden dari Amerika Utara, Asia, Afrika, dan Eropa menemukan menguap yang “menular” ialah wujud empati sosial dan membantu seseorang berinteraksi dengan orang lain.


Meski masih belum ditemukan alasan menguap bisa “menular”, tapi ternyata menguap yang “menular” mengintrepretasikan perasaan orang lain. Demikian seperti disitat Genius Beauty, Senin (9/1/2012).


Reaksi seseorang terhadap orang yang menguap tergantung dari bagaimana kedekatan hubungan di antara keduanya. Kasus “tertular” menguap tertinggi terjadi di antara anggota keluarga, disusul oleh kejadian di antara teman.


Keinginan menguap setelah melihat orang yang belum dikenal menguap terjadi pada 1 di antara 10 orang. Itu berarti, tak butuh waktu lama untuk menularkan menguap kepada orang terdekat.


 


View the original article here



continue reading

Wednesday, 15 February 2012

6 Makanan yang Bikin Kenyang Lebih Cepat

JAN29

Berikut ini enam makanan super yang bisa membantu kita mengunci mulut kita dari kekhilafan untuk makan berlebih dan dijamin cepat mengenyangkan.

1. Apel Satu buah apel ukuran sedang mengandung 95 kalori dan 4 gram serat. Penelitian terbaru, yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition menyarankan kita untuk meningkatkan asupan serat harian kita agar bobot tubuh tidak terus melonjak.

2. Oatmeal Mengonsumsi sarapan dengan makanan pelepas karbohidrat yang lambat atau ber-GI rendah, seperti oatmeal, 3 jam sebelum kita berolahraga akan membantu proses pembakaran lemak lebih banyak.

Mengasup makanan dengan GI rendah tidak akan membuat gula darah kita melonjak setinggi mengonsumsi makanan dengan GI tinggi, seperti roti tawar putih. Dan hasilnya, kadar insulin dalam darah pun tidak ikut naik tinggi.

3. Sup Penelitian yang dimasukkan ke dalam Journal Appetite, menunjukkan orang yang memulai makan dengan semangkuk sup sayuran, akan mengasup kalori 20 persen lebih rendah dari makanan utama mereka.

4. Jamur Sebuah studi melaporkan orang yang mengonsumsi jamur sebagai makanan pembuka, akan merasa sama puasnya ketika mereka menyantap hindangan yang terbuat dari sapi. Hanya kandungan kalori dan lemaknya lebih sedikit.

5. Telur  Untuk orang yang sedang melakukan program diet, sarapan dengan telur akan membuat mereka merasa kenyang lebih lama. Plus, dapat menggilas lemak 2 kali lebih banyak dibanding dengan yang mengonsumsi jumlah kalori yang sama dari roti. Tidak hanya untuk sarapan, kehadiran telur dalam salad akan menjadikannya camilan sehat dan mengenyangkan.

6. Kacang almond Mengunyahlah lebih banyak untuk menahan lapar. Inilah yang disimpulkan peneliti dari sebuah studi yang dimasukkan ke dalam American Journal of Clinical Nutrition. Mereka meminta para partisipan untuk mengunyah sekitar 113 gram almon sebanyak 10, 20, atau 40 kali.

Sukarelawan yang mengunyah terbanyak (40 kali) merasa kenyang lebih lama. Ini disebabkan, mengunyah almond lebih banyak akan melepaskan lemak yang terkandung dalam almond lebih banyak, dan nantinya akan dapat mengunci hormon pemicu lapar, ujar Rick Mattes PhD, RD, professor of food and nutrition di Purdue University. (Prevention Indonesia)




View the original article here

continue reading